MEDAN — Ketahanan energi di Sumatera Utara kembali menjadi perhatian kelompok mahasiswa. Cipayung Plus Sumatera Utara mengapresiasi kinerja PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) dalam menjaga pasokan dan distribusi BBM serta LPG, namun pada saat yang sama meminta perbaikan sistem terus dilakukan dan setiap persoalan di lapangan tidak berhenti pada langkah penanganan sementara.
Cipayung Plus Sumut yang terdiri dari PMII, IMM, GMNI, KAMMI dan GMKI menilai keberlangsungan pasokan energi memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dan pergerakan ekonomi daerah.
BBM dan LPG bukan sekadar komoditas perdagangan. Kelancaran distribusinya berkaitan dengan transportasi, UMKM, industri, aktivitas nelayan dan petani hingga pelayanan publik.
Ketua PKC PMII Sumatera Utara, M. Agung Prabowo, mengatakan posisi Pertamina sangat strategis dalam menjaga stabilitas aktivitas masyarakat.
“Kami mengapresiasi upaya Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dalam menjaga ketahanan energi di Sumatera Utara. BBM dan LPG merupakan kebutuhan yang sangat dekat dengan masyarakat. Ketika distribusinya berjalan baik, maka aktivitas transportasi, UMKM, industri, nelayan, petani hingga pelayanan publik juga ikut terbantu,” ujarnya, Sabtu (12/9/2026).
Namun, Agung menegaskan bahwa apresiasi tersebut tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya fungsi kontrol sosial mahasiswa.
Menurutnya, koordinasi antara Pertamina, pemerintah daerah, aparat penegak hukum dan elemen masyarakat harus terus diperkuat, terutama untuk mengantisipasi persoalan distribusi sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih luas.
“Mahasiswa tentu tetap menjalankan fungsi kontrol sosial. Apresiasi bukan berarti menghilangkan kritik. Justru kami ingin mendorong agar Pertamina terus terbuka terhadap masukan masyarakat dan semakin cepat merespons apabila terjadi persoalan di lapangan,” tegasnya.
Distribusi Energi Masih Menjadi Titik Kritis
Ketua DPD IMM Sumatera Utara, Rahmat Taufiq Pardede, menilai tantangan distribusi energi di Sumatera Utara tidak sederhana. Luas wilayah dan karakter geografis yang beragam membuat sistem distribusi membutuhkan pengawasan serta perencanaan yang konsisten.
Ia mengapresiasi langkah penguatan monitoring, stok dan koordinasi lintas sektor yang dilakukan Pertamina Sumbagut.
“Menurut kami, tantangan distribusi energi di Sumatera Utara tidak sederhana. Karena itu, langkah Pertamina dalam memperkuat monitoring, armada distribusi, stok dan koordinasi lintas sektor merupakan hal positif. Yang paling penting adalah bagaimana kebijakan dan langkah tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.
Rahmat juga mendorong keterbukaan informasi ketika terjadi perubahan kondisi pasokan maupun gangguan distribusi.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas agar tidak muncul spekulasi maupun kepanikan ketika terjadi antrean atau keterlambatan pasokan.
Sementara itu, Ketua DPD GMNI Sumatera Utara, Armando Sitompul, menilai energi merupakan salah satu fondasi utama perekonomian daerah.
“Energi adalah bagian penting dari roda perekonomian. Ketika pasokan energi terjaga, mobilitas masyarakat, kegiatan industri, perdagangan dan aktivitas ekonomi lainnya dapat berjalan lebih baik,” ujarnya.
Armando mendorong Pertamina tidak hanya fokus pada distribusi, tetapi juga terus memperkuat aspek efisiensi, keselamatan kerja, inovasi dan keberlanjutan.
Evaluasi Jangan Menunggu Masalah Membesar
Ketua KAMMI Sumatera Utara, Irham Saddani Rambe, menilai ketahanan energi tidak dapat dibebankan kepada satu institusi saja.
Pemerintah, Pertamina, aparat, pelaku usaha dan masyarakat memiliki peran masing-masing untuk memastikan energi tersedia dan digunakan secara tepat.
“Kami melihat upaya menjaga ketahanan energi tidak bisa dibebankan hanya kepada Pertamina. Pemerintah, masyarakat, aparat, dunia usaha dan kelompok masyarakat sipil harus memiliki tanggung jawab bersama,” katanya.
Cipayung Plus Sumut juga menyoroti dinamika distribusi BBM yang sempat menimbulkan antrean dan keluhan masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera Utara pada Juli 2026.
Pertamina sebelumnya menyampaikan langkah optimalisasi distribusi, termasuk penguatan koordinasi, pengoperasian Fuel Terminal Medan Group selama 24 jam serta penambahan armada mobil tangki untuk mempercepat normalisasi.
Bagi Cipayung Plus, persoalan tersebut semestinya tidak hanya dilihat sebagai gangguan sesaat. Setiap persoalan distribusi harus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem sehingga kejadian serupa dapat diminimalkan.
“Apresiasi yang kami sampaikan merupakan bentuk penghargaan terhadap kerja dan upaya yang sudah dilakukan. Namun, setiap persoalan yang muncul di lapangan harus menjadi evaluasi agar pelayanan Pertamina semakin baik,” tegas Cipayung Plus Sumatera Utara.
Mereka menekankan tiga hal yang menjadi ukuran penting pelayanan energi kepada masyarakat: pasokan tersedia, distribusi berjalan lancar dan pelayanan diberikan secara transparan serta responsif.
Cipayung Plus Sumut berharap Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut tidak hanya mampu menjaga ketahanan energi dalam kondisi normal, tetapi juga memiliki sistem yang kuat ketika menghadapi lonjakan kebutuhan maupun gangguan distribusi.
Bagi masyarakat, ketahanan energi bukan sekadar angka stok di atas kertas. Ukurannya sederhana: BBM dan LPG tersedia ketika dibutuhkan, mudah diakses masyarakat, serta distribusinya berjalan tanpa menimbulkan keresahan.
Willyam Pasaribu
