MAKASSAR – Kabar duka sekaligus mengejutkan datang dari Korps Bhayangkara di Sulawesi Selatan. Seorang bintara muda berpangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda) berinisial DP, dilaporkan meninggal dunia secara misterius di lingkungan Asrama Polisi (Aspol) yang terletak di kompleks Markas Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.
Kematian pemuda malang ini menyisakan tanda tanya besar setelah pihak keluarga menemukan sejumlah luka lebam yang tidak wajar pada jenazah korban, yang memicu dugaan adanya tindakan kekerasan atau penganiayaan oleh oknum senior.
Kronologi Kejadian: Sakit Mendadak atau Dianiaya?
Peristiwa ini mulai terkuak pada Minggu pagi. Berdasarkan laporan awal dari Direktorat Samapta Polda Sulsel, Bripda DP dikabarkan jatuh sakit sesaat setelah melaksanakan salat Subuh usai santap sahur di asrama. Rekan-rekannya kemudian melarikan korban ke RSUD Daya untuk mendapatkan pertolongan medis darurat.
Namun, takdir berkata lain. Nyawa Bripda DP tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit. Pihak keluarga, termasuk ayah korban yang juga seorang anggota Polri aktif bertugas di Polres Pinrang, Aipda H. Jabir, awalnya menerima informasi bahwa putranya wafat karena sakit.
Kecurigaan muncul saat keluarga melihat langsung kondisi jenazah. Alih-alih terlihat seperti orang sakit pada umumnya, tubuh korban ditemukan dalam kondisi memar di beberapa bagian dan terdapat darah yang keluar dari area mulut. Merasa ada yang janggal, keluarga pun meminta penyelidikan lebih lanjut.
Langkah Tegas Bidang Propam
Merespons laporan tersebut, Kabid Propam Polda Sulsel, Kombes Pol Zulham Effendi, langsung turun tangan. Pihaknya menegaskan bahwa saat ini pemeriksaan intensif sedang dilakukan terhadap lingkungan internal Aspol.
“Kami belum bisa pastikan apakah ini korban pengeroyokan atau bukan. Yang pasti, kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap enam orang, termasuk rekan satu angkatan (lichting) dan senior korban. Jumlah saksi kemungkinan besar akan bertambah,” tegas Kombes Pol Zulham saat memberikan keterangan kepada wartawan di Makassar.
Untuk menguak kebenaran di balik luka memar tersebut, jenazah Bripda DP telah dipindahkan dari RSUD Daya ke RS Bhayangkara untuk menjalani proses visum luar maupun dalam.
Komitmen Transparansi dan Profesionalisme
Polda Sulsel berjanji tidak akan menutup-nutupi kasus ini, terutama jika terbukti ada pelanggaran disiplin atau tindak pidana yang dilakukan oleh sesama anggota Polri.
“Saya sudah instruksikan kepada Kabid Dokkes dan tim dokter untuk memeriksa dengan jujur. Jangan ada yang ditutup-tutupi jika memang ditemukan tanda kekerasan. Jika pihak keluarga mengizinkan, kami akan lakukan autopsi menyeluruh guna memastikan penyebab pasti kematian,” tambah Zulham.
Saat ini, suasana haru menyelimuti RS Bhayangkara Makassar. Ayah korban, Aipda H. Jabir, bersama sang istri masih setia menunggu proses pemeriksaan medis selesai. Rencananya, setelah seluruh prosedur kepolisian rampung, jenazah Bripda DP akan segera dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Pinrang untuk dimakamkan.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik, menanti sejauh mana komitmen Polri dalam menegakkan aturan internal terhadap dugaan tradisi kekerasan senioritas di lingkungan asrama.
