Bilal Mayyit Indonesia atau yang di singkat BMI sangat kecewa terhadap BANK SUMUT.
Setelah penantian yang sangat lama dengan proses yang sangat rumit,akhir nya BMI KOTA MEDAN kecewa terhadap BANK SUMUT.
Pada akhirnya proposal yang di ajukan akhirnya di tolak.

Medan | buser86.com
Bilal Mayyit Indonesia (BMI) Kota Medan menyampaikan kekecewaan atas penolakan proposal program pendidikan dan pelatihan fardhu kifayah (jenazah) yang diajukan kepada Bank Sumut pusat.
Proposal tersebut dikembalikan setelah delapan bulan menunggu kepastian.
Ketua BMI Kota Medan, Amir Husin, menjelaskan bahwa pihak bank menolak karena program fardhu kifayah tidak termasuk dalam nomenklatur kegiatan CSR Bank Sumut. “Menurut pihak bank, yang dapat diakomodasi hanya program terkait UMKM atau bisnis yang dianggap menguntungkan bank,” ujarnya. ( 21/2/2026 ).

Proses Panjang Tanpa Kepastian.
Proposal awal diajukan pada 11 Juli 2025 dan sempat ditindaklanjuti dengan kunjungan resmi Bank Sumut pada 30 Juli 2025. Pihak bank kemudian meminta kelengkapan dokumen tambahan, seperti surat keterangan tidak ditampung APBD, jadwal pelatihan, AD/ART BMI, hingga daftar pemateri. Berkas tambahan diserahkan BMI pada 20 Agustus 2025 dan diterima oleh ” Sasa” staf Bank Sumut,
Meski sudah dilengkapi, komunikasi antara BMI dan pihak bank berjalan lambat. Amir Husin mengaku berulang kali mencoba menghubungi Sekretaris Perusahaan Unit CSR Bank Sumut, Devi, namun tidak mendapat kepastian. “Kami berharap ada transparansi sejak awal, sehingga masyarakat tidak menunggu dalam ketidakjelasan,” katanya. Penolakan Resmi.
Setelah berbulan-bulan tanpa kabar, pada Jumat (20/2/2026) perwakilan Bank Sumut, yakni Rahim, Ekky, dan Devi, mendatangi Kantor BMI Kota Medan. Dalam pertemuan tersebut, mereka menyampaikan keputusan pimpinan Bank Sumut untuk menolak proposal dengan alasan program fardhu kifayah tidak masuk dalam daftar kegiatan CSR.
“Yang ada hanya program pelatihan menjahit atau dukungan UMKM seperti pemberian gerobak jualan,” ungkap Ekky.
Kami Berharap ada Tranparansi/kejelasan sejak Awal, Kenapa waktu Mereka datang ke Kantor BMI tidak memberi tahu bahwa Pendidikan dan Pelatihan Fardhu Kifayah itu tidak ada, malah orang Bank Mengasih Harapan,dengan di suruh melengkapi syarat – syarat yang kurang.Setelah di lengkapi syarat – syaratnya Baru bilang nggak ada di program CSR Bank Sumut.
BMI Cari Dukungan Alternatif.
Amir Husin menegaskan, penolakan ini menjadi pukulan bagi BMI yang menilai program fardhu kifayah sangat penting bagi masyarakat. “Kami kecewa setelah delapan bulan menunggu. Ke depan, kami akan mencari dukungan dari lembaga lain yang lebih peduli terhadap kebutuhan sosial masyarakat,” tegasnya.

